Belajar AI untuk Bisnis: The First 2 Years Journey Saya

Belajar AI untuk Bisnis: The First 2 Years Journey Saya

Halo,

Saya Ubay Mughni.

Thank you for coming to my blogs. Kenalan dulu yu πŸ˜€ hehe

Di sini, saya mau banyak share tentang aktivitas yang saya suka banget lakuin. yapp, ngulik AI.

Journey Saya Kenal AI, Sampai Sekarang

Postingan pertama di blog ini. Cerita dari titik nol sampai hari ini.

Jadi gini.

Beberapa tahun terakhir saya cukup sering ditanya hal yang mirip-mirip.

β€œUbay, lo dapet ide bikin time travel ketemu Ibnu Sina dari mana?”

β€œKok bisa sampai bikin mobil F1 keliling Jakarta?”

β€œFramework-nya apa, share dong.”

Saya selalu jawab seadanya di kolom komentar atau DM, tapi jujur saya merasa jawabannya selalu kurang. Karena untuk paham kenapa saya sekarang ada di titik ini, harus ditarik mundur dulu cukup jauh.

Dan saya rasa blog ini tempat yang lebih pas buat cerita versi panjangnya.

Jadi anggap aja ini postingan kenalan secara online ya, hehe.

Trigger Awal Belajar AI : Gimana Cara Jualan Tetap Laku dan Ga Mati

Saya bukan orang yang dari awal pengen jadi creator. Saya brand owner. Sejak 2019 saya sudah menghabiskan miliaran rupiah untuk iklan online, mostly buat brand sendiri di e-commerce. Itu dunia saya. Dashboard iklan, CPM, ROAS, A/B test β€” itu yang setiap hari saya pelototin.

Tapi mulai sekitar dua tahun terakhir, sesuatu berubah.

Biaya iklan naik. Biaya admin platform naik. Persaingan makin gila. Cara-cara yang dulu work, sekarang harus dipaksa kerja dua kali lebih keras untuk hasil yang sama. Banyak teman sesama brand owner mulai mundur, atau pivot ke hal lain, ada yang fokus jualan produk digital, ada yang fokus trading dan ada yang bisnis offline sekalian.

Tidak terkecuali saya, ini membuat saya merasakan tekanan yang sama.

Di sela kepanikan itu, AI mulai ramai. Saya bukan tipe orang yang langsung jump on every hype, tapi saya juga bukan tipe yang pasif nungguin orang lain coba duluan.

Jadi saya mulai ngulik. Bukan karena pengen viral, bukan karena pengen jadi AI guru. Pertanyaan saya saat itu sangat sempit:

bisa nggak AI ini bantu saya bikin iklan lebih efisien?

Itu hipotesis awalnya.Β 

sesederhana itu aja.

Dari sana, saya ikut bootcamp ecourse tentang membuat video cinematic ads. Gak langsung praktek, cuma ikut menyerap ilmunya, dan selang beberapa bulan, saya coba praktekin apa yang ada di ecourse sekaligus coba-coba tools Generative AI yang ada.

Lalu ada satu video yang tembus 5,5 juta views

Awalnya saya pakai AI buat hal-hal teknis. Bantu nulis copy iklan, bantu generate variasi visual buat A/B testing, bantu ngerjain hal-hal yang dulu harus saya pesan ke designer atau copywriter.

Lumayan, hemat waktu, hemat budget.

Tapi suatu hari saya iseng coba bikin video AI yang konsepnya agak liar β€” saya jadi diri sendiri, tapi lagi ngobrol sama Ibnu Sina di abad ke-11. Saya posting bukan dengan ekspektasi apa-apa. Lebih ke pengen liat seberapa convincing hasilnya kalau saya scaling pendekatan ini.

Video itu tembus 5,5 juta views.

Saya pikir itu kebetulan. Algoritma lagi mood baik. Jadi saya bikin lagi yang lain β€” keliling Jakarta naik mobil F1 pas Lebaran. 2,5 juta. Ngubah HotWheels jadi mobil beneran di mall. 3,4 juta. Ketemu Mansa Musa, Cleopatra, Ibnu Khaldun, sampai Nu’ayman bin Amr al-Anshari.

Satu per satu naik. Bukan semua, tapi cukup banyak yang menembus angka yang dulu saya pikir cuma bisa dicapai sama akun-akun besar.

Dan di titik itu saya berhenti sebentar. Bukan untuk merayakan.

Tapi untuk bertanya ke diri sendiri: ini sebenernya apa yang terjadi?

Yang menarik bukan angkanya. Yang menarik adalah polanya

Saya orang data.

Kalau ada sesuatu yang berulang, saya pengen tahu kenapa. Jadi saya coba bedah video-video itu satu per satu. Bukan dari segi teknis AI-nya β€” itu yang gampang. Tapi dari segi: kenapa orang nonton sampai habis? Kenapa mereka komen? Kenapa mereka share?

Dan saya nemu ada framework yang berulang. Bukan formula ajaib, tapi ada cara berpikir yang konsisten di balik konten yang naik. Untuk benar-benar memastikan ini bukan kebetulan algoritma yang condong ke akun saya, saya coba terapkan framework yang sama ke akun lain β€” akun ustadz @DerrySulaiman. Beliau persona yang sangat berbeda dari saya. Audiensnya berbeda. Tone-nya berbeda.

Hasilnya: hampir semua video tembus jutaan views. Ada satu yang menyentuh 23,9 juta.

Di titik itu saya tahu ini bukan luck. Ini sesuatu yang bisa dipelajari, dipecah, dan kalau perlu diajarkan ke orang lain.

Tapi konten viral bukan tujuan akhir saya

Ini bagian yang sering disalahpahami orang.

Mereka liat akun saya, liat angkanya, dan mengira fokus saya creator. Padahal bukan.

Fokus saya tetap di bisnis. Konten viral itu efek samping yang menyenangkan, dan jujur saya nikmati prosesnya. Tapi yang sebenarnya saya kejar selama ini adalah hal yang lebih membosankan:

Gimana AI bisa bantu saya bertahan dan tumbuh sebagai brand owner di era yang berubah secepat ini.

Setelah video-video itu naik, saya gak berhenti di sana.

Saya justru makin dalam masuk ke AI β€” tapi ke sisi yang jarang dilihat orang dari luar. Saya pakai AI buat test ide produk sebelum modalin. Buat bangun sistem-sistem kecil yang jalan otomatis di bisnis. Bahkan sampai bikin tools sendiri, kayak engagement tracker otomatis yang saya rakit pakai apa yang sekarang sering disebut vibe coding, dan laporan finansial yang setara standar WMI yang saya susun bareng AI.

Hal yang dulu saya pikir cuma bisa dikerjain sama tim, sekarang bisa saya kerjakan sendiri. Dan ini bukan teori β€” ini yang lagi saya buktikan langsung di brand skincare yang sedang saya bangun untuk Gen Z.

Desember 2025: nol order. Maret 2026: ratusan order per hari

Brand skincare ini contoh paling konkret dari semua yang saya ceritakan di atas.

Desember 2025, brand-nya baru lahir. Dashboard order-nya rata. Nol.

Saya tahu banyak yang lewat di feed Anda menampilkan grafik penjualan yang naik tajam dari hari pertama. Kenyataannya jarang seperti itu. Yang lebih sering terjadi adalah: gagal dulu, rugi dulu, baru pelan-pelan ketemu pattern-nya.

Januari masih sepi. Saya iterate iklannya berkali-kali. Februari mulai ada gerakan. Maret 2026, brand-nya konsisten menyentuh ratusan order per hari. Dan bukan karena suddenly viral β€” tapi karena setiap proses di belakangnya, dari iklan, copy, analisis data, sampai pengambilan keputusan harian, dijalankan dengan bantuan AI yang sudah saya kalibrasi sesuai konteks bisnis sendiri.

Pelajaran dari lima tahun terakhir spent miliaran untuk iklan, lalu dipadukan dengan layer AI baru ini β€” itu yang akan saya bagikan di sini. Bukan highlight-nya doang. Termasuk kegagalannya.

Dan tahun ini saya juga selesaikan WMI

Banyak yang bingung kenapa saya repot-repot ambil sertifikasi Wakil Manajer Investasi. Saya bukan analis pasar modal. Saya juga tidak berencana buka jasa investasi.

Alasannya simpel: menghasilkan uang dan menjaga uang itu dua skill yang sangat berbeda. Saya sudah cukup lama belajar yang pertama. Yang kedua β€” cara menjaga dan melipatgandakan hasil kerja β€” baru saya seriusi dua tahun terakhir.

WMI buat saya bukan soal gelar. Itu cara memaksa diri sendiri mempelajari dunia finansial dengan struktur yang benar, bukan dari potongan konten yang nyebar di feed. Sertifikasinya sebenernya cuma penanda bahwa proses belajarnya udah sampai titik tertentu. Yang lebih berharga adalah cara berpikir yang saya bawa pulang.

Oh ya, di antara semua itu saya juga freediving

Ini hal yang nyambungnya nggak langsung kelihatan, tapi penting saya sebutkan.

Saya freediver. Hobi ini buat saya bukan cuma olahraga β€” itu cara saya reset otak. Ketika Anda menahan napas di kedalaman, urusan iklan, order, dashboard, semuanya nggak ada artinya untuk beberapa menit. Yang ada cuma napas, tubuh, dan air. Lalu Anda naik ke permukaan dengan kepala yang lebih jernih.

Dan menariknya, saya juga belajar freediving dengan pendekatan yang sama seperti saya belajar bisnis dan AI. Catat data, dokumentasi progres, evaluasi jujur. Mungkin ini benang merah dari semua yang saya kerjakan: cara belajar yang sama, diterapkan ke topik yang kelihatannya nggak nyambung satu sama lain.

Jadi, kenapa Anda harus stay di sini

Kalau Anda baca sampai sini, terima kasih β€” dan saya yakin Anda bakal nemu sesuatu yang useful di tulisan-tulisan saya berikutnya.

Blog ini bukan tempat saya pamer angka. Ini tempat saya mendokumentasikan proses. Cara saya pakai AI buat bikin konten yang naik. Cara saya monetisasi skill AI ke pendapatan nyata. Cara saya mengelola hasilnya supaya nggak menguap. Tiga topik itu nanti punya tulisannya sendiri-sendiri β€” dan postingan ini adalah pintunya.

Saya tulis ini dari pengalaman langsung, bukan dari ringkasan buku atau kursus orang lain aja. Termasuk kegagalannya. Karena saya percaya, di era yang berubah secepat ini, cara terbaik belajar bukan dari ringkasan β€” tapi dari proses yang didokumentasikan dengan jujur.

Kalau Anda lagi mau adaptasi dan optimasi bisnis pakai AI, atau sekadar ingin diskusi tentang hal-hal di atas β€” silakan kirim DM kepada saya.

Let’s collaborate.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 Ubay Mughni Personal Blog